REFLEKSI KEIKHLASAN

Hajar protes. Mengapa suaminya meninggalkan dia dan anaknya yang masih kecil di padang pasir tak bertuan. Seperti jamaknya dia hanya bisa menduga bahwa ini akibat kecemburuan Sarah, istri pertama suaminya yang belum juga bisa memberi putra. Hajar mengejar Ibrahim, suaminya, dan berteriak: “Mengapa engkau tega meninggalkan kami di sini? Bagaimana kami bisa bertahan hidup?” Ibrahim terus melangkah meninggalkan keduanya, tanpa menoleh, tanpa memperlihatkan air matanya yang meleleh. Remuk redam perasaannya terjepit antara pengabdian dan pembiaran.

Hajar masih terus mengejar sambil menggendong Ismail, kali ini dia setengah menjerit, dan jeritannya menembus langit, “Apakah ini perintah Tuhanmu?” Kali ini Ibrahim, sang khalilullah, berhenti melangkah. Dunia seolah berhenti berputar. Malaikat yang menyaksikan peristiwa itu pun turut terdiam menanti jawaban Ibrahim. Butir pasir seolah terpaku kaku. Angin seolah berhenti mendesah. Pertanyaan, atau lebih tepatnya gugatan Hajar membuat semua terkesiap.

Ibrahim membalik tubuhnya, dan berkata tegas, “Iya!”. Hajar berhenti mengejar. dia terdiam. Lantas meluncurlah kata-kata dari bibirnya, yang memgagetkan semuanya: malaikat, butir pasir dan angin.  “Jikalau ini perintah dari Tuhanmu, pergilah, tinggalkan kami di sini. Jangan khawatir. Tuhan akan menjaga kami.” Ibrahim pun beranjak pergi. Dilema itu punah sudah. Ini sebuah pengabdian, atas nama perintah, bukan sebuah pembiaran. Peristiwa Hajar dan Ibrahim ini adalah romantisme keberkahan.

Itulah ikhlas. Ikhlas adalah wujud sebuah keyakinan mutlak pada Sang Maha Mutlak. Ikhlas adalah kepasrahan bukan  mengalah apalagi menyerah kalah. Ikhlas itu adalah engkau sanggup berlari melawan dan mengejar, namun engkau memilh patuh dan tunduk. Ikhlas adalah sebuah kekuatan menundukkan diri sendiri dan semua yang engkau cintai. Ikhlas adalah memilih jalanNya, bukan karena engkau terpojok tak punya jalan lain. Ikhlas bukan lari dari kenyataan. Ikhlas bukan karena terpaksa. Ikhlas bukan merasionalisasi tindakan, bukan mengalkulasi hasil akhir. Ikhlas tak pernah berhitung. Ikhlas tak pernah pula menepuk dada. Ikhlas itu tangga menujuNya. Ikhlas itu mendengar perintahNya dan menaatiNya.

Belum cukupkah engkau memahami apa itu ikhlas dari diamnya Hajar dan perginya Ibrahim?

Mengaqil Baligh-kan Anak

I think, today we are very blessed, because with information and technology in our hand, we can learn anywhere and anytime. Here the little part of knowledge that i got from my fellow. I put to my blog for saving this enlight information…. Btw, March will over soon, already for next month and the real life!

Materi pertama dari Psikolog lulusan UI, Drs. Adriano Rusfi, S.Psi atau yang sering di sapa Bang Aad. Beliau menyampaikan materi Melahirkan Generasi Aqil Baligh untuk Peradaban Indonesia yang Lebih Hijau dan Lebih Damai.

Konsultan SDM dan Pendidikan Independen yang pernah menjadi Pimpinan Umum Majalah Ummi ini membuka materi dengan pertanyaan: “Apa yang membuat anak-anak kita tertarik dengan ISIS atau NII? Mengapa seorang anak usia 13 tahun bisa mengendarai mobil balap dan menewaskan banyak orang? Mengapa tawuran? Mengapa pakai narkoba?”
Berdasarkan pengalaman beliau bekerja pada BNN di bagian prevensi, penangkapan ternyata hanya memiliki efek keberhasilan 2%. Bahkan rehabilitasi tingkat keberhasilannya hanya 6%. Artinya jika 100 orang di rehabilitasi, 94 orang akan kembali jadi pemakai.

Kalau dulu Bung Karno bilang, “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Sekarang kita bilang, “Beri aku satu remaja, pusing awak dibuatnya.”
Pemuda memang identik dengan semangat perubahan. Ini merupakan salah satu penyebab mengapa pada masa Rasullullah, Islam lebih berkembang di Madinah daripada di Mekah. Saat itu di Madinah lebih banyak penduduk mudanya, dibandingkan dengan Mekah yang lebih banyak penduduk berusia lanjutnya.

Di masa awal kemerdekaan, kita bisa lihat bagaimana para pemuda seperti Bung Karno, HOS Cokroaminoto, dan lain-lain mampu memimpin perundingan antar negara pada usia mudanya. Mereka menyerukan sumpah pemuda untuk mempersatukan bangsa. Tercatat dalam sejarah bagaimana geniusnya mereka memilih bahasa melayu yang egaliter sebagai bahasa persatuan.
Lantas mengapa kualitas generasi muda kita menurun?
Konsep remaja

Istilah remaja itu adalah istilah yang dikenal pada akhir abad 19. Sebelumnya tidak ada istilah itu. Dalam sebuah penelitian ilmiah pada suku-suku terasing di Samoa, Papua, Baduy dalam, ciri-ciri keremajaan itu tidak tampak pada masyarakat disana. Dalam dunia kedokteran hanya ada istilah Pedagogi untuk anak dan Andragogi untuk Dewasa. Tidak ada istilah remaja.

Remaja dalam fenomena sosial sekarang lebih merupakan tragedi. Sebuah generasi banci sosial, tidak produktif, bahkan konsumtif dan destruktif, bukan anak tapi belum dewasa.

Kalau anak minta duit, kita bilangnya “Kamu sudah besar, minta duit melulu”
Kalau anak minta kawin, kita bilangnya “Kamu masih kecil, sudah minta kawin”
Konsep remaja itu mendapat pembenaran ilmiah, sosial bahkan agama. Kita jadi mengenal istilah remaja mesjid. Di sini lemahnya science yang hanya bicara soal fakta. Jika dalam populasi ada 10% banci, maka kita akan menyebutkan bahwa jenis kelamin itu ada 3. Demikian juga dengan remaja, yang sebenarnya tidak ada.
Aqil Baligh dalam Islam

Islam mengenal istilah Aqil Baligh. Baligh adalah kedewasaan fisik, sedangkan Aqil adalah kedewasaan mental. Masalah terjadi ketika Baligh dan Aqil ini tidak sepaket. Baligh berhubungan dengan nutrisi. Para bunda over sukses dengan memberi nutrisi pada anak, sehingga kini masa baligh bisa terjadi pada usia sangat dini seperti 9 tahun.

Sedangkan Aqil berhubungan dengan kedewasaan mental, yang menurut teori psikologi makin lama makin lambat munculnya. Kedewasaan mental kini muncul di usia 22-24 tahun. Di sinilah masalah muncul. Kita pun mengenal istilah remaja. Sudah Baligh tapi belum Aqil. Terciptalah periode transisional dalam rentang yang panjang. Dalam Al Quran juga disebutkan mengenai perlunya kita berlindung dari masa-masa transisi seperti ini.

Dalam Islam, Aqil dan Baligh disiapkan dalam 1 paket. Tidak bisa dipisah-pisah. Paling lambat usia 15 tahun Aqil dan Baligh itu sudah bisa tercapai. Bagaimana caranya? Siapa yang bertanggung-jawab meng-aqilbaligh-kan anak?

Perlu dipahami bahwa penanggung jawab utama pendidikan adalah ayah. Bukan bunda! Bunda adalah pelaksana pendidikan. Dalam sejumlah referensi islami ditemukan tokoh parenting yang terkenal adalah laki-laki.

Ada nama Lukmanul Hakim, seorang budak berkulit hitam yang petuah-petuahnya untuk anak-anaknya menjadi referensi parenting hingga kini. Namanya bahkan diabadikan dalam Al Quran.
Saat ini, sebagai korban revolusi industri, para ayah menjadi sekedar buruh. Jangan berlindung dibalik kualitas, padahal kuantitas kurang. Tidak ada kualitas tanpa kuantitas yang cukup.

Bersama para pakar parenting lain, Bang Aad terpikir juga untuk menciptakan model ayah bekerja cukup dengan 4 jam sehari, sehingga memiliki waktu lebih untuk mendidik anak-anaknya. Tapi jangan juga jadi ayah yang serakah. “Kalau 4 jam saya dapat 30 juta, berarti dalam 8 jam bisa dapat 60 juta nih.”
Terkadang para Ayah pulang bawa gaji, “Ini uang bulan ini, cukup-cukupin ya.” Lantas petantang petenteng seolah bisa menjajah seisi rumah karena merasa pencari nafkah.

Salah satu masalah berat dalam rumah tangga adalah tanggung jawab pendidikan anak, bukan urusan cari uang. Makanya pikir matang-matang kalau mau berpoligami.

Tugas pengajaran bisa didelegasikan ke sekolah, namun tugas pendidikan tetap di rumah. Sekolah tidak bisa dijadikan tulang punggung pendidikan anak. Sekolah berasal dari bahasa latin Schole yang artinya waktu luang. Jadi dari sejarahnya, sekolah adalah sekedar kegiatan mengisi waktu luang disela-sela kegiatan utama mereka bermain menghabiskan masa anak-anak mereka. Kini sekolah menjadi salah kaprah dengan berubah sebagai kegiatan utama tempat orang tua buang anak. Sehingga orang tua-nya bisa tenang mencari uang untuk bayar sekolah. Sebuah ironi.

Jadikan dalam satu paket, cintai kebenaran dan benci pada kebatilan. Jangan dipisah-pisah.
Kenapa sholat rajin, buang sampah sembarangan juga rajin?
Kenapa puasa senin-kamis, zina juga senin kamis?

Ini karena kita sekedar melatih pembiasaan. Biasa sholat, biasa puasa, tapi tidak biasa buang sampah pada tempatnya.

Kita lebih mengutamakan ibadah dan ahlak, sementara akidah tertinggal dibelakang. Ibadah dan ahlak ini yang menjadi jualan sekolah-sekolah sekarang karena itu yang mudah terlihat dan terukur. Padahal yang penting itu akidah atau pondasinya. Namanya juga pondasi, sering tidak kelihatan pada awalnya.
Sekolah akan mengajarkan sholat, tapi tidak bisa bertanggung jawab untuk kedewasaan anak. Terkadang terasa ada yang aneh ketika mendengar komentar, “Tolong doakan anak saya yang baru lulus dan sudah hafizd Quran, semoga mendapatkan pekerjaan.”
Pendidikan kedewasaan itu memerlukan ikatan batin. Beda di elus oleh ibu dengan dielus oleh guru. Saat dielus ibu, antibodi si anak bekerja.
Allah menitipkan hikmah pada orang tua untuk anak-anaknya. Dan itu tidak bisa didelegasikan pada siapapun. Dengan harga berapapun.

Saya jadi ingin menambahkan status facebook keren Bang Aad, 1 Desembar 2015 lalu,
Dulu, saat anak-anak temannya telah bisa membaca AlQur’an ketika berusia 3 tahun, dia hanya berkisah pada anaknya tentang indahnya AlQur’an
Dulu, saat anak-anak temannya telah terlatih shalat ketika berusia 5 tahun, dia hanya bercerita pada anaknya betapa indahnya perintah Allah
Dulu, saat anak-anak temannya telah hafal hadits Arba’in ketika berusia 7 tahun, dia hanya berkisah pada anaknya tentang indahnya Rasulullah
Kini, saat teman-temannya berkeluh-kesah tentang anak-anaknya, dia asyik terpesona menyaksikan indahnya Islam pada diri ananda. Libatkan anak dalam masalah..

Pria kelahiran 1964 ini pernah punya status viral mengenai menikah. Kalau kita masukkan nama Adriano Rusfi di Google, akan nongol tulisan ini.

Saya baru punya mobil usia 42 tahun. Rumah baru punya 2 tahun lalu, sebelumnya ngontrak”, kata lulusan psikologi UI kelahiran tahun 1964 ini.
Dulu teman-temannya bilang, “Lu makanya yang fokus dong cari duit.”
Kalau sekarang teman-teman kagum dan bilang, “Lu bakatnya banyak banget sih?” Bang Aad sekarang bisa membalas “Mungkin dulu Lu kecepetan fokus sih.”
Generasi dewasa hijau perlu digerakkan hatinya, jangan hanya otak. Akal sehat tidak identik dengan kecerdasan akademis. Perilaku hijau adalah perilaku perduli pada sesama.

Salah satu cara yang disampaikan Bang Aad adalah dengan tidak menyembunyikan masalah dari anak. Rem masa baligh anak dengan membantu orang tua menyelesaikan masalahnya.

Pada masa kecil Rasulullah ia adalah penggembala ternak. Beliau melatih empatinya dengan memelihara binatang. Saat ini kita bisa begitu alergi dengar kata ‘gembala’ atau bahkan ‘bunda’. Padahal sebenarnya arti gembala itu adalah memuliakan, memakmurkan.

Jadi kurang tepat juga ketika mengatakan, “Biar Ayah saja yang menderita, kamu belajar saja yang rajin.” Pria yang sempat mengurus Sistem kaderisasi Mesjid Salman dan Orientasi Mahasiswa Baru ITB ini menyebutkannya sebagai kalimat kurang ajar. Mengapa si ayah tidak mengijinkan anaknya mengikuti jalan suksesnya? Tidak ada sejarahnya orang sukses hanya dari gelimangan kemudahan.
“Supaya beban finansial saya cepat beres, saya fokus meng-aqilbaligh-kan anak”. Anak Bang Aad dari usia SMP sudah menjadi loper koran, membuka jasa servis tamiya, membantu scoring lembar psikotest. Sehingga anak jadi timbul empatinya.
Setiap permintaan akan dimulai dengan pertanyaan: “Abi ada duit nggak?”
Apapun yang anak minta harus 10% uang dia. Bang Aad cerita bagaimana anaknya ingin sepeda motor. “Bebas boleh pilih yang mana saja, asal 10% uang sendiri.” Anaknya jadi mikir juga. Yang 16 juta, harus ada 1,6 juta. Akhirnya si anak memilih yang 9 juta saja, karena merasa mampu menyediakan 10%-nya. Abi senang, anak senang.

Konglomerat Tionghoa itu sadis-sadis sama anaknya. Kalau anak mereka minta macam-macam, jawabnya “Sudah bagus Bapak kasih segitu.” Kita saja yang Melayu ini suka memanjakan anak. Bang Aad sempat bercerita tentang tetangganya yang pengusaha kaya raya. Ketika hujan, ia memberikan payung buat anaknya supaya jadi ojek payung.
Ketika anak sudah memasuki usia aqil baligh, anak dikasih tahu. “Kamu ini sebenarnya sudah bisa Ayah suruh pindah, tapi sekarang masih boleh tinggal dirumah. Hanya statusnya numpang. Numpang makan, numpang tidur. Jadi tau diri lah sebagai penumpang. Baik-baik sama tuan rumah.”
Ajari anak cari uang, ajari anak berorganisasi. Libatkan anak dengan masalah. Anak mulai bisa diajarkan kemandirian saat usia diatas 7 tahun.

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” Yakinlah setiap anak sudah terlahir muslim. Itu sudah fitrahnya. Didik anak dengan penuh optimis, tidak perlu rekayasa. Dan jangan lupa untuk meminta kepada Allah melengkapi kekurangan kita dalam mendidik anak-anak.

 

Last Jumaa in February

No one can be perfect, but everyone can be the best. Because the perfection only can be reached by two different persons (qawwamah and qanitah).

Trully , I have wrote many things that we can do together, you and me this year. We spend our entirely of time together. A part which I do really like is, we have same vision for empowering people, for enhancing their life. Our happiness is same too, when we share something we have. We get smilling when people around us smilling too, and it will going awesome! And of course we have many differences each other, but we can hold each other accountable for our individual dreams and goals. Like me today, I wanna take my graduate program, because as a leader (qawwamah) I must be a smart person. And you? Maybe you have difference “first step”, but it is no problem.

So, would you, my dearest?

Don’t Ask Me

“You can see a sea in two ways: first, you see it as an obstacle to reach another island, or second, you see it as an instrument to reach your destination” (Ust Jazir ASP)

I think today we are heading the boundary, but we can’t see it well. The boundary created by our opinions, our mindset that barrier our purposes. But wait the second, look at ourselves, we had growth, now we had an adult. Not a boy and a girl anymore, but a man and a woman. Our thinking was different. We have responsibility for what have we done, for our choice. We are on level can choose which one is the best for us, for our lives. And the faith is always come first, then same of dream. So, if you have decided (even truly I never known what have you choose), hope that the best for you.

Like what as Ust Jazir says above, we can see a sea in two ways, as obstacle or instrument. As opportunity or boundary. Opportunity to improve ourselves better and better. Or, boundary that makes us stuck in somewhere or some level. So please don’t ask me, because I will ask you first.

1438 H: Ketakutan dan Keyakinan

Pada saat itu, sungguh sangat mencekam, mereka nampak kebingungan, ketakutan, dan kepanikan. Sampai-sampai diantara mereka bertanya pada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, dimanakah pertolongan Allah itu?” Bagaimana tidak?! Pada saat musim paceklik yang sangat sulit, kemarau yang tiada berakhir, ada seruan jihad. Jihad akbar. Mereka harus bersiap siaga, menahan serangan musuh. Menahan gempuran musuh yang jumlahnya puluhan ribu, dengan pasukan kuda-kuda terbaik. Ini adalah serangan terbesar yang pernah ada di Jazirah Arab. Serbuan tentara sekutu, “Ahzab” dari beragam suku dengan persenjataan lengkap.

Dijelaskan dalam AlQuran, kondisi kaum Muslimin saat itu, “(Yaitu) ketika mereka datang dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka kepada Allah dengan bermacam-macam prasangka buruk. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat” {Al- Ahzab: 10-11}.

Lalu dalam musyawarah diputuskanlah untuk membuat sebuah parit “khandaq” untuk menghalau pasukan berkuda kaum musyrikin. Bukan pekerjaan yang mudah untuk bisa membuat parit di tanah kering, penuh bebatuan dan keras di Madinah. Dengan payah dan penuh perjuangan Rasulullah langsung memimpin pembuatan parit itu, tercatat panjangnya 5,5 Km, lebarnya 4,62 m, dengan kedalaman 3,234 m.

Tapi tahukah ternyata, yang memenangkan peperangan akbar yang dahsyat ini bukanlah strategi parit, pengorbanan para sahabat, atau jumlah pasukan kaum Muslimin.. Akan tetapi yang memenangkan peperangan ini adalah sebuah badai, badai pasir, Allah kirimkan bala pasukan-Nya yang tak terlihat. Ada kuasa Allah di sana!

Memilki ketakutan itu adalah hal yang wajar. Manusiawi. Tapi berlarut-larut dalam ketakutan itu tidak menyelesaikan masalah.

Statrting point: Sudah hampir tujuh hari masuk di tahun baru Muharam 1438 H. Masihkah ketakutan-ketakutan masa lalu menghinggapi setiap langkah dalam kehidupan saat ini? Dalam keputusan yang hendak diambil? Masih ragukah dengan pertolongan Allah (yang sungguh dekat dan nyata itu)?

Sekaranglah momentumnya, sekarang saatnya untuk berubah, hijrah. Kubur semua ketakutan dan kekhawatiran yang pernah terjadi dengan ikhtiar dan tawakal terbaik. Jika kebaikan yang dikerjakan, Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya sendirian. Berserahlah hanya pada-Nya dan yakin dengan pertolongan-Nya!

When Does The Dry-season Really End?

Dry-season is the season for basking in the warm sun, for me, this time for tanning in the beach. And maybe this is favourite season for the climbers in Indonesia, to reach the peak, the highest peak. When dry-season, they can walking in the night – even very cold – while joy the star of stars and gives huge smile for the moon, then, wake up very early to discover the sunrise, celebrate the morning. In Indonesia, we only have two kinds of season, dry and rain season, we blessed, Alhamdulillah

But today Indonesia is very need the rains, many areas in Indonesia having dryness, the society hardship to get clean water. They have to walk far away just to find a little water. For the farmers, waiting the rains like a wife who yearning her husband for honeymoon in the first time. Rains or water for ricefield seem like husband’s love for his wife. In fact, now many ricefields was drought, and the farmers are heading harvest fail.

The worst in dry-season this year is forest fires. Disaster that created by human being. Nearly 60,000 Indonesians are suffering respiratory ailments due to the haze and heavy smoke from forest fires. Men, women, children, even baby get hard to breath. It makes really sad. Pray and effort always continuing, hope Allah blessing Indonesia with the rains soon.

When it rains, the haze will gone and the farmers smiling. For the climbers, you should be at home. Too dangerous climb a mountain in the rains. Just stay at home, maybe you can make a sweet honeymoon with your mate (was halal). Because rains is very cold and also very romantic.

Tragedi Mina dan Penitip Doa

Adakah seorang Mukmin di Bumi ini yang tak merindukan ke Tanah Suci? Menyempurnakan rukun Islam yang ke-5 untuk menjadi Muslim Sejati. Menikmati rakaat demi rakaat sholat berjamaah langsung berhadapan dengan Ka’bah yang mewangi. Menapaki jejak-jejak agung para Nabi kekasih Ilahi Rabbi.. Begitu indah dan tentunya menawan hati.

Namun tetiba kita dibuat kaget, karena ada duka di ibadah haji tahun ini. Sebuah crane roboh di Masjidil Haram, puluhan jamaah wafat. Belum selesai di situ, kita kembali dikejutkan dengan peristiwa yang lebih sedih. Ratusan jamaah wafat terinjak-injak seba’da lempar jumrah di Mina. Dan terakhir, kita mendapati kabar ada kebakaran di sebuah hotel yang ditempati jamaah, beruntung tidak ada korban jiwa di sana. Tapi yang menjadi pusat perhatian kita semua adalah pada tragedi Mina, bukan hanya karena jumlah korban yang sangat banyak, tetapi peristiwa ini, sudah sering terjadi, kejadian klasik yang berulang, tak hanya sekali, tercatat, tahun 1990, 1994, 1997, 1998, 2001, 2004, 2006, dan 2015, semoga ini tragedi memilukan yang terakhir. (sumber)

Tak berselang lama, Ibu saya memberi tahu, bahwa Kakek saya (dari Bapak) telah wafat pada tragedi Mina, beliau menjadi salah seorang jamaah Indonesia yang ikut dimakamkan di Tanah Suci. Seorang lelaki tua yang begitu bersahaja telah pergi untuk selamanya. Seorang kakek yang sehari-harinya berjualan asongan di pelataran Masjid Agung Bandung. Sosok lelaki tangguh yang sampai usia senjanya masih mengais rezeki sendiri, berusaha dan bekerja mandiri. Fisiknya kecil, tapi beliau memiliki semangat dan cita-cita yang tinggi.

Mesjid Agung Bandung menjadi tempatnya berjualan dengan alasan supaya tidak pernah terlewat shalat berjamaah, supaya dalam kondisi apa pun, ketika seruan untuk Shalat dikumandangkan, beliau bisa bergegas memenuhinya. Ahhh… malu rasanya, kalau bertemu beliau.

Penghasilanya tentu saja tak seberapa… Tapi apakah materi menjadi penghalang untuk ke berhaji ke Tanah Suci? Seperti alasan kebanyakan kita saat ini? Tentu BUKAN! Ada kehendak dan kuasa Allah di sana. Tabunganya memang tidak berjuta-juta, tapi Allah punya rencana lain, Allah Maha Pemberi Rezeki bagi hamba-Nya yang bertaqwa dari jalan yang tak terduga, apalgi mereka yang berikhtiar dengan sungguh-sungguh untuk menyempurnakan Rukun Islam yang kelima. Allah mengundangnya ke Tanah Suci,dan tidak hanya diundang ke Tanah Suci, beliau pun Allah ambil-kembali dari kehidupan di Bumi. “Semoga Allah karunia-I haji mabrur untuk beliau, mati dalam keadaan syuhada, dan kelak kita bertemu di Syurga-Nya”

Kejadian wafatnya Kakek saya terjadi ketika tragedi Mina 1990 atau 1994 (saya kurang begitu yakin pasti waktunya), tapi yang jelas it happened when I was a baby. Meski tak ada kenangan-kuat bersama beliau, tapi nama saya, beliau yang ngasih, doa dan cintanya tersemat kuat ada pada diri saya, Agis Muhsin (Agitsna Muhsin, “berikanlah kami anak [manusia] yang baik”) kurang lebih itulah makna nama saya yang merupakan pemberian dari Kakek saya.

Akan tetapi ketakutan kehilangan kembali muncul, ketika mendengar tragedi Mina tahun ini, karena dari jutaan jamaah haji yang berdesak-desakan di Mina setelah ber-Wukuf di Arafah, ada tiga jamaah haji yang saya sangat berharap bisa bertemu kembali setelah mereka dari Tanah Suci. Tiga sosok manusia yang banyak berjasa dalam kehidupan saya sampai saat ini. Mereka adalah, Mentor saya tercinta, lalu Pak Basyir, salah satu pembina di Frekuensi Foundation, dan Pak Yusuf, seorang lelaki tua, tokoh di kampung saya yang menjadikan saya sebagi cucu angkat beliau.

Mereka bertiga saya titipi doa yang sama. Sebait doa penuh asa dan cinta, dari satu peminta yang sama. Doa, “semoga saya bisa amanah, mudah, dan berkah pada pekerjaan saat ini, kemantapan untuk menikah tahun ini, dan get scholarship for study abroad in 2016″. Semoga Allah berikan yang terbaik atas doa-doa saya melalui mereka.

Lalu bagaimana kabar mereka? Tiga orang sholeh nan taqwa di sana? Alhamdulillah mereka selamat, dan sehat sentausa.

Kembali, Berubah Arah, atau Terus Jalan

Besok, tamu-tamu Allah dari segala penjuru dunia kan melaksanakan Wukuf, bediam diri, berkontemplasi, pengenalan diri (makrifat nafs) di padang Arafah, merenungi atas segala yang telah dikerjakan. Jutaan orang akan berkumpul di satu tempat, kira-kira seperti inilah kelak manusia nantinya, setelah kehidupan di dunia, dikumpulkan di sebuah “padang” menunggu hisab.

Bagi sebagian yang lain, yang belum bertamu ke rumah Allah tahun ini disunnahkan untuk shaum. Shaum Arafah, yang bisa menghapuskan dosa setahun ke depan dan setahun ke belakang. Mari Shaum🙂

***

Pengenalan diri (makrifat nafs), ini lah yang betul-betul dirasakan akhir-akhir ini. Mengenal diri-sendiri.. hendak jadi apa kelak? Prestasi apa yang ingin ditorehkan? Kebermanfaatan seperti apa yang ingin dibagikan ke masyarakat luas?

Sustainable Local Economic Development… ini adalah hasil perenungan selama saya bekerja di Jakarta. Jadi kurang-lebihnya saya ingin focus dalam pengembangan ekonomi di daerah, terutama di pedalaman. Sebuah konsep ekonomi diperuntukan untuk masyarakat yang tinggal in rural areas, to reduce poverty and improve their quality of life. Ini lah bidang yang ingin saya dalami betul-betul, dari sinilah saya berharapa Allah berikan jalan agar saya bisa menghimpun segala amal kebaikan. Memberikan nilai kebermaknaan dan kebermanfaatan bagi kehidupan.

Akhirnya dengan segala keterbatasan saya pun mencoba memulai, memilah kira-kira langkah kongkret seperti apa yang mudah dan akrab, yang mungkin diterapkan di lingkungan masyarakat yang tinggal di pedalaman.

Dua hal yang selalu ada bagi masyarakat di pedalaman, mayoritas mereka adalah petani, juga peternak. Jadi program yang akan saya jalankan harus bersinggungan dengan tani dan ternak.

Untuk pertanian setelah beberapa kali ngobrol dan berbincang dengan para petani, masalah yang mereka adalah modal awal ketika di awal musim. Akhirnya saya dan berberap tokoh mencoba membuat sebuah koperasi tani yang memberikan soft loan dengan konsep syariah bagi para petani. Alhamdulillah modal awal dapat dari bantuan pemerintah. Setengah modalnya sudah digulirkan ke 60 anggota.

Untuk ternak, kekebetulan saya bertemu kawan lama yang concern dalam peternakan, jadi matching dah tuh. Focus pertama kita, adalah mencari investor ternak, lalu dititipkan ke para petani. Alhamdulillah dengan izin Allah ada kurang-lebih ada 27 ekor domba dan 4 ekor sapi yang bisa kami titipkan ke para petani. Waktu penitipanya hanya sebentar, 5 bulan, dan hari raya idul Adha ini adalah masa panennya, lumayan ada penghasilan tambahan untuk masyarkat yang dititipi.

Nampak lancar, dan bahagia, tetapi sudah Sunnatullah setiap keinginan pasti ada rintangan, pasti ada hambatan, itulah hakikatnya. Ini sedang betul-betul saya alami sekarang.

Koperasi tani yang dijalankan, sekarang sedang mengalami kemandeg-an, hampir 6 bulan tidak ada aliran uang yang masuk ke kas. Ada 34 juta rupiah uang yang masih di luar, tak jelas kapan pulang ke pangkuan, ke dalam kas penuh harapan. Jadi bidang pertanian dengan konsep soft loan untuk modal di awal musim bertani sedang mengalami krisis.

Pun begitu dengan ternak, yang biasanya menjelang idul adha adalah masa panen, sekarang belum terasa. Domba-domba yang dari petani masih betah menjadi display on nest market. Hanya sapi saja yang sudah laku terjual. Krisis juga sampai ke kandang-kandang ternak.

Keinginan tak sesuai dengan harapan, cita-cita tak sesuai dengan realita.

Mungkin ini karena ikhtiar belum maksimal, atau keilmuan yang masih sangat kurang, atau doa belum khusyu, atau mungkin bidang ini bukan bidang yang tepat buat saya untuk berkarya dan berguna bagi sesama?

Siti Hajar berlari 7 kali antara bukit Shafa dan Marwa mencari air untuk Nabi Ismail, tapi justru air (zam-zam) muncul dekat di kaki Nabi Ismail, bukan di Shofa juga Marwa. Ikhtiar itu keharusan… Tapi Rezeki itu kejutan…

Semoga Allah memberi kekuatan dalam melalui semua ini, dan nampaknya akan lebih kuat kalau ada yang ‘menemani’.

*Diakhiri dengan sebuah kode :p

Regenerasi Ketaqwaan

Keduanya nampak begitu sedih, duka menyelimuti setiap langkah mereka, karena pernikahan yang dijalani tidak berlangsung lama, hanya setahun bersama. Pernikahan suci, yang dihubungkan oleh Nabi itu pun harus diakhiri. Pernikahan dua sahabat yang mulia, Zaid seorang mantan budak yang kemudian diangkat anak oleh Rasulullah SAW dengan Zainab (putri bibi Rasulullah SAW) seorang keturunan bangsawan Quraisy. Zaid tak sanggup lagi untuk bersabar, pun begitu dengan Zainab. Mereka akhirnya sepakat untuk berpisah, karena tidak memilki satu kesetaraan, berbeda kufuu satu dan lainnya. Keduanya berduka, tapi Allah langsung menghibur mereka berdua, nama Zaid tertulis dalam AlQuran, satu-satunya sahabat Nabi yang namanya jelas tertera dalam AlQuran, lalu Zainab dinikahi oleh Muhammad SAW, manusia terbaik sepanjang zaman.

Setidaknya ada dua hikmah utama dalam kisah sahabat di atas, tentang tidak adanya hubungan nasab anak angkat, dan pentingnya se-kufuu atau kesetaraan dalam sebuah pernikahan!

“Lantas? Kesetaraan seperti apa yang harus ada dalam mengawali sebuah pernikahan atau keluarga?” Kesetaraan dalam hal visi hidup dan sikap. Akan tetapi hal ini bersifat situasional, artinya tidak baku, dan bisa terselesaikan dengan kesepakatan bersama, dalam perjanjian yang agung, mitsaqon gholidhon.

“..Perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik..” {QS 24: 28}. Begitulah janji Allah dalam AlQuran. Jadi untuk mendapatkan yang terbaik, jadilah yang terbaik. Inilah ikhtiar yang bisa kita lakukan sampai saat ini, menjadi yang terbaik! Beruntung bagi kita, ummat Islam, Allah sudah menjelaskan, seperti apakah lelaki yang baik… juga wanita yang baik.

Lelaki yang baik, dalam AlQuran disebutkan, adalah yang memiliki sifat Qawwam. Laki-laki itu pemimpin bagi wanita “Arrijaalu qawwamuuna ‘alannisaa…” Qawwam, ini adalah sifat utama seorang lelaki, sebagai pemimpin, pelindung, penanggung-jawab. Dalam konteks rumah tangga, atau keluarga, sifat Qawwam pada lelaki adalah kewajiban menjadi pilar kokoh. Tempat bersandar yang tegar. Tempat penopang yang menjamin tidak robohnya bangunan rumah tangga. Tempat kenyamanan bagi semua penghuni rumah. Ia menjadi sumber nafkah untuk keberlangsungan, nafkah yang memberikan fasilitas hidup dan ketenangan bagi seluruh anggota rumah. Dari sekian banyak hadist Nabi tentang ciri lelaki yang baik, setidaknya ada 7 sifat utama, yaitu, mampu menafkahi secara batin, memberi nafkah berupa harta, istiqamah dalam agama, memegang teguh amanah, berahlak yang mulia, mampu mendidik, dan bersikap lembut dalam memimpin. Dan kalau berkaca pada kepribadian Nabi Muhammad SAW, ia senantiasa tampil prima (enerjik), rapih dan wangi. Artinya Ini adalah sifat fisik (yang harus ada) bagi seorang lelaki yang sesuai dengan sunnah.

Sedangkan wanita? Dia adalah yang Qanitah, yang taat pada segala perintah Allah dan suami dengan hati yang penuh ke-ikhlasan. Dalam ayat yang lain, wanita yang baik adalah, dia yang memiliki sifat lemah lembut dan menjaga kemaluanya. Kekuatan atau kelebihan wanita ada pada dua hal itu, lemah lembut dan pemalu, atau saya pribadi lebih suka menyebutnya, “pesona-utama” seorang wanita adalah karena kelemah-lembutan dan sikapnya yang pemalu. Dia yang bisa menjaga dengan sungguh-sungguh dirinya dari lingkungan sekitar, menjaga dari segala fitnah yang mungkin terjadi. Dia lebih suka berdiam diri di rumah daripada pergi ke luar, melakukan perjalanan yang kurang bermanfaat, apalagi tanpa didampingi oleh seorang muhrim. Lebih memilih untuk khusyu’ menambah ilmu pengetahuan daripada melakukan kegiatan yang tidak jelas, karena sadar betul dia akan menjadi madrasah pertama bagi generasi penerus, bagi putra-putrinya kelak. Itulah yang disebutkan dalam AlQuran dan hadist tentang sifat wanita sholehah. Sangat berbeda dengan kondisi saat ini, hanya alasan hobi, banyak perintah Allah dan tuntunan Nabi tidak ditaati. Wallahu’alam

Menikah atau membina rumah tangga seutuhnya tentang regenerasi ketaqwaan, tentang kebersamaan supaya Allah SWT memberi keridha-an, tentang saling menguatkan dalam beragam ujian kehidupan. Surga yang abadi itu teramat sulit untuk bisa digapai oleh seorang diri, karenanya disunnahkan untuk menikah, menggenapkan separuh agama, agar lebih mudah untuk menggapainya. Jika ada setumpuk perbedaan, segera lakukan ikhtiar maksimal untuk mendekatkan jurang perbedaan. Karena jelas kita bukan lah Zaid, juga bukan Zainab, yang lansung mendapat “hiburan” dari Allah tatkala merasakan perihnya perpisahaan karena ketidaksetaraan. Rabbi hablii milladunka zaujatan/zaujan thayyiban wayakuna shahiban lii fiddini waddunya wal akhirah; Allhumma inni as’aluka hubbaka, wa hubba man yuhibbuka wal ‘amalal ladzii yuballighunni hubbaka. Aamiin Allahumma Aamiin.

Disclaimer: on my way to struggle like a man above, insyaa Allah

Satu Mega (byte)

Pernah kah sampai pada keadaan atau situasi dimana seolah-olah ingin berhenti? Menyudahi apa yang sedang dikerjakan. Menghentikan segala doa harapan yang rutin dipanjatkan. Merasakan bahwa seolah-seolah apa yang diperbuat selama ini adalah kesia-siaan? Jauh-jauh hari sebelum kita terlahir di dunia, takdir kita sudah tertulis dalam kitab yang nyata, Laul Mahfuz . Ajal, harta, jodoh, dan baik-buruk,

***

Kekecewaan, kesedihan menjadi sesuatu yang biasa hadir dalam setiap riak hidup kita, bahkan wajib ada dalam setiap ikhtiar yang kita lakukan. Karena ini merupakan pembuktian kualitas pribadi kita, level keimanan kita, seperti apa kita menyikapinya. Jika kesedihan dan kekecewaan menghampiri, sabar dan ikhlaskan lah, peran kita sebagai manusia sudah selesai, ikhtiar terbaik lalu disempurnakan dengan doa terbaik, itu bagian kita. Hasilnya? Allah yang mengatur.

”Jika tidak bisa bersyukur maka bersabar, jika tidak bisa bersabar maka beryukur”. Lalu istiqmah lah dalam kebaikan, dimana pun, dalam kondisi apa pun. Bukan kah dunia ini fana, betumpuk misteri terhampar di depan, kiri dan kanan kita.

Sekali lagi, ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan, ikhlaskan lah, bersabarlah, dan tetaplah istiqamah dalam kebaikan, dan yakin, Allah tahu yang terbaik bagi kita, jauh lebih tahu, karena Dia Maha Tahu. Dekati Allah, pantaskan diri kita di depan-Nya.

Doaku yang terbaik untukmu, untukku, untuk kita. “..pena takdir telah diangkat dan lembaranya telah mengering…”